Melatih Diri (Menantang Generasi Milineal dengan Beladiri Pencaksilat bag.3)
![]() |
Juara Krida Siswa Tahun 2018 |
Rasa
bangsa datang saat semua pengorbanan terbayar lunas sesuai harapan. Begitu pula
dengan melatih. Ceritaku tentang episode pelatih pencaksilat ekstrakurikuler
bagian selanjutnya. Ada berbagai hal tentang perjalanan ini, yang kini masih belum
usai meskipun beberapa titik pencapaian sudah kami lampaui. Melampauinya dengan
berbagai kisah perjuangan, pengorbanan dan keikhlasan hati.
Seperti
di kisah sebelumnya, tahun pertama saat menjadi pelatih penuh dengan tantangan.
Mulai dari memotivasi siswa agar terus mau ikut berlatih, melengkapi peralatan
latihan hingga tuntutan untuk berprestasi dari sekolah. Jujur saja melatih
ekstrakurikuler memang tidak gratis, ada sedikit uang ganti untuk keringat kami
(aku dan pelatih pendampingku), namun
ini bukan soal itu. Sama sekali tidak ada tujuan untuk memperoleh uang, kami
melatih murni karena kecintaan kepada olahraga beladari asli Indonesia ini.
Ajaran organisasi kami bukan untuk mencari keuntungan semata, jadi jerih payah
kami terbayar saat siswa bisa berprestasi. Honor melatih kami sisihkan, bahkan
lebih sering tidak kami pakai, mengapa? Alasanya adalah untuk melengkapi
kebutuhan kami dalam perlatan latihan. Pihak sekolah tidak serta merta
menyetujui pengadaan perlatan latihan, kami harus putar otak untuk tantangan
ini. Sedangkan apabila mau berprestasi tentu mempunyai perlatan latihan yang
memadai merupakan kewajiban yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, aku mengelola
uang honor setiap bulan untuk ditabung hingga nanti apabila sudah mencukupi
akan membeli alat latihan pencaksilat.
Tidak
ada usaha yang sia-sia, ditahun pertama kami mampu membeli pacing,sebagai sasaran latihan pukulan dan tendangan karena tidak
mungkin kami melatih tendangan dan dipraktekan langsung kepada sesama siswa.
Intensitas latihan kami tambah, bebagai dasar latihan pencaksilat untuk
persiapan atlet terus kami gempur agar fisik dan mental menjadi lebih bagus.
Sebagai pelatih mempersiapkan atlet untuk terjun menjadi juara bukanlah sesuatu
yang instan. Olahraga pencaksilat mengandung resiko yang tinggi apabila terjadi
cidera. Oleh karena itu, kami harus memastikan bahwa atlet yang akan terjun
dalam sebuah kejuaran benar-benar siap, minimal meskipun kalah mereka tidak
mengalami cidera. Selain itu mereka juga harus memiliki mental, mental untuk
menjadi pemenang dan mental untuk menerima kekalahan.
Pucuk
dicinta ulam pun tiba, diakhir tahun 2016 kami mempunyai kesempatan untuk
mengirim satu atlet yang ikutkan kejuaraan pencaksilat (IPSI kota Malang).
Sebenarnya kami sebagai pelatih masih belum seratus persen yakin akan kempuan
siswa yang akan bertanding. Intinya sama sekali tidak menaruh harapan untuk
menjadi juara, tidak cidera saja aku sudah senang mengingat ini baru kali
pertama dia ikut kejuaraan. Namun presdiksiku justru meleset, siswa yang baru
ikut pertandingan itu mampu melaju sampai ke babak final. Sungguh pencapain
diluar dugaan. Hingga rasanya tidak percaya jika mampu sampai ke babak final.
Meskipun pada akhirnya kami hanya mendapat juara dua namun itu merupakan awal
yang baik bagi ekstrakurikuler yang belum genanp satu tahun berjalan mampu
menyumbang prestasi bagi sekolah.
Pada
tahun-tahun berikutnya kami semakin percaya diri. Apabila ada kesempatan untuk
mengikuti kejuaraan akan kami ambil. Jangan ditanya soal modal, bagaimana kami
mencukupi makanan, asupan gizi dan alat pelindung diri. Benar-benar murni dari
uang honor bulanan yang ditabung. Pihak sekolah baru akan memberikan
penghargaan ketika kami menjadi juara, apabila tidak juara maka itu akan
menjadi amal. Jatuh bangun pada setiap kejuaraan itu sudah menjadi hal biasa,
terkadang kami pulang tanpa membawa apapun. Namun bagi kami itu menyenangkan
dan membahagiakan, tangis haru hingga tangis kesedihan menjadi warna-warni
perjalan yang berharga.
Menjadi pelatih
ekstrakurikuler pencaksilat itu bukanlah hal mudah, apalagi bisa menjadikan
siswanya menjadi atlet berprestasi. Akan tetapi, melatih itu butuh kesabaran,
pengorbanan dan keteguhan hati. Tiada hasil yang mengkhianati proses. Pelatih
itu juga melatih dirinya sendiri agar lebih kuat, lebih tegar, lebih sabar
didepan para siswanya dalam menghadapai setiap permasalahan. Jadilah manusia
yang memberi inspirasi dan teladan baik bagi siapapun. Apapun peran mu hari
ini.
Comments
Post a Comment