Magelang_Cerita Sang Petualang
![]() |
Perbatasan Yogyakarta-Magelang |
Cerita
ini merupakan bagian dari perjalanan yang tidak pernah direncanakan. Tentang
pertemuan yang mengejutkan. Kebersamaan yang menyatukan, hingga kisah
persahabatan dari orang-orang baru saja berkenalan. Untuk dapat akrab dengan
seseorang yang baru dikenal biasanya kita butuh waktu lama, yang jelas lebih
dari satu hari. Namun kisah ini sungguh mengejutkan, bahkan sampai sekarang
masih terkesan sulit untuk dipercaya. Mengapa? Kok bisa ya? Ada beberapa
pertanyaan yang memang tidak harus dijelaskan. Ini adalah kisah perjalanan saat
aku harus belajar kembali di Yogyakarta. Belajar agar menjadi pendidik yang
professional. Aku termasuk salah satu peserta yang mungkin beruntung karena ini
adalah program dari pemerintah. Tidak semua pendidik bisa masuk dan ikut
program seperti ini. Selain itu, pengalaman bertemu dengan orang-orang hebat
yang baru saja aku kenal merupakan keberuntungan yang tidak bisa dinilai dengan
materi apapun.
![]() |
Bersama Pak Panji, berpetualang ke Magelang |
Sebelum
kami bertemu di Yogyakarta, kami hanya sebatas berkomunikasi melalui media
dalam jejaring. Ya tentu jelas berbeda berkenalan melalui dunia digital dengan
pertemuan di dunia nyata. Bagian yang akan aku ceritakan kali ini tentang
pertemuan dan perkenalanku dengan salah seorang sahabat yang berasal dari Purbalingga
Jawa Tengah. Boleh dibilang dia juga termasuk seniorku meskipun selisih kita
hanya dua tahun saja. Sebenarnya bukan hanya dia, ada sekitar 16 orang dari
berbagai daerah dalam kelompok kami yang
kebanyakan berasalah dari Kalimantan Selatan. Namun kebetulan, saat regestrasi
hanya kami berdua anggota laki-laki yang datang pada saat itu, dan yang lain
perempuan semua. Memang dari 16 anggota, hanya ada 4 laki-laki saja,
perbandingannya 1 banding 4.
![]() |
Foto di tengah perjalanan menuju Magelang |
Singkat
cerita setelah kami berkenalan, para ibu-ibu (aku sebut ibu-ibu saja karena
hampir semua anggota kelompokku sudah menjadi ibu-ibu) mempunyai rencana
sendiri untuk saling berkenalan dengan jalan-jalan serta belanja. Maka kami
berdua pun akhirnya juga memisahkan diri, dan entah kenapa muncul ide untuk
pergi ke Magelang. Katanya dekat hanya butuh dua jam perjalanan jika pakai
sepeda motor. Awalnya aku sedikit ragu dengan tujuan kami pergi ke Magelang.
Masih beberapa jam kami berkenalan, belum tahu juga bagaimana kondisi jalan
menuju ke sana, ditambah kita berencana untuk menginap dirumah salah satu teman.
Katanya untuk mengisi kegiatan sambil menunggu jadwal, kerena besok masih belum
ada kegiatan kuliah. Setelah dipikir-pikir benar juga, kapan lagi bisa
menikmati petualangan ke Magelang. Kesempatan ini jangan sampai terlewatkan.
Dengan
mengendari sepeda motor berboncengan akhirnya kami menuju Magelang. Rute yang
sama sekali asing bagiku. Hanya candi Borobudur saja yang teringat dikepalaku
jika menyebut nama Magelang. Magelang kota di Jawa Tengah yang terletak di
perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah. Dari Yogyakarta kami lewat kabupaten Sleman,
menyusuri jalan menuju arah Gunung Merapi. Selain kota Malang dan Surabaya, aku
juga baru tahu jika fanatisme sepak bola juga ada di Sleman dan Yogyakarta.
Sepanjang jalan selain pemandangan kebun Salak yang berdampingan, ada lambang-lambang
bendera fanatisme sepak bola yang aku lihat. Kami juga sempat berfoto saat
melintasi perbatasan Yogyakarta-Magelang. Disebelah kanan jalan, terlihat jelas
pemandangan puncak Merapi, salah satu gunung berapi aktif dan simbol dari
kebudayaan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Gunung ini memang terletak
diperbatasan, jadi banyak kota dan kabupaten yang berdampingan dengan Merapi
termasuk Magelang.
![]() |
Pegunungan Slamet dan Merapi |
Perjalanan
menuju Magelang memang tidak begitu lama, sesuai dengan rencana karena jalan
juga lancar. Sekitar dua jam kemudian, kami sudah sampai dan langsung menuju
alun-alun kota Magelang. Sesaat aku seolah tidak menyangka jika akan
berpetualang ke Magelang ditambah kita baru saja saling mengenal. Setelah
sampai dan menikmati suasana alun-alun kota Magelang, kami bertemua dengan
salah seorang teman dan akhirnya kami bertiga saling menyapa. Makan siang
disebelah alun-alun dengan menu khas yaitu Kupat Tahu. Makananan ini mirip
Ketupat Sayur. Selesai mengisi perut dan bercerita kami melanjutkan perjalanan.
![]() |
Kupat Tahu |
Aku
sebagai tamu yang baru mengenal wilayah Magelang hanya ikut saja. Hitung-hitung
menambah pengalaman, kapan lagi bisa jalan-jalan ke Magelang. Pesona alam
Magelang sungguh indah, seluruh sudut kemana arah mata angin dikelilingi
pegunungan, kota ini memang berada diantara pegunungan yang saling
bergandengan. Dan aku baru tahu jika Magelang itu bisa berarti “gelang”atau
lingkaran, lingkaran pegunungan. Tempat
tujuan kami berupa sebuah telaga, Telaga Bleder. Telaga ini seperti perpaduan
sumber mata air dan bendungan/kolam yang berfungsi sebagai pengairan lawan
persawahan. Meskipun suasananya sepi, telaga Bleder cukup asyik untuk mencari
ketenangan dari hiruk pikuk keramaian kota.
![]() |
Telaga Bleder Magelang |
![]() |
Menenangkan diri di air terjun |
Hanya
beberapa menit saja kami singgah di telaga Bleder. Sebelum sore dan matahari
terbenam perjalanan kami lanjutkan ke sebuah wisata air terjun. Sayangnya aku
lupa ada nama air terjunnya, yang jelas letaknya cukup tinggi dan harus jalan
kaki untuk sampai kesana. Meskipun bukan air terjun dengan aliran yang deras
namun cukup menyejukan, airnya juga dingin. Melanjutkan perjalan kembali karena
waktu sudah sore, kami harus pulang sebelum magrib. Perjalan ini sungguh luar
biasa, seperti melewati jalan yang membelah pegunungan, jalanya berkelok di damping
bukit dan jurang disisi jalan. Jangan tanya arah, karena juga masih
mengira-ngira arah mana yang sebenarnya kita tuju, seandainya disuruh kembali
kesini mungkin aku akan tersesat.
Malam
harinya, setelah magrib kami berencana untuk pergi lagi dengan tujuan ziarah ke
makam beberapa wali yang ada di Magelang. Aku tidak hapal persis yang aku tahu
memang bukan hanya walisongo saja, karena dulu aku pernah ikut ziarah saat
masih dipondok juga sempat mengunjungi Magelang. Ada tiga tempat ziarah yang
kami kunjungi pertama di makam Kyai Khudlori. Setelah itu di komplek makam raja
Mataram Islam. Terkahir di komplek makam Gunung Pring di Muntilan. Saat ziarah
di Gunung Pring, memori masa lalu tiba-tiba muncul, karena aku dulu pernah
mengnjungi tempat ini. Dan tidak terasa waktu sudah cukup malam, saat perjalan
pulang aku tertidur.
![]() |
Nasi Godog |
Sebagai
penutup petualangan di Magelang ialah mencicipi kuliner khas Magelang. Kami
mampir makan malam di lesehan warung nasi goreng. Nah, kami memesan yang jarang
ada di Jawa Timur, dan memang baru kali ini aku mendengar nama makanan itu “nasi
godog”. Dari namany saja sudah unik, kalau nasi goreng jelas nasinya di goreng,
ini nasi godog, apa iya nasinya hanya di didihkan di air panas saja. Setelah
hidanganya sampai di depan mata aku baru tahu jika nasi godog itu seperti nasi
goreng yang diberi kuah, kuahnya berbumbu kalau di jawa timur mirip kuah gulai.
Nasi godog, hidangan lezat dari Magelang, cocok bila jadikan kuliner untuk
menemani dinginnya udara malam hari. Bagi kalian yang belum pernah ke Magelang,
ayo ke Magelang. Mengunjungi beberapa tempat yang belum pernah kalian kunjungi
itu menyenangkan, ditambah bisa menicicipi kuliner khasnya. Demikian cerita
petualangan di Magelang. Sampai bertemu di cerita berikutnya.
Comments
Post a Comment