Budaya Coret Seragam saat Kelulusan Sekolah. Masih Relevankah di Era Milineal?

Contoh perayaan kelulusan dengan coret seragam sekolah

Selamat pagi generasi milenial. Mungkin saat ini ada beberapa generasi milienal yang sedang menikmati moment perayaan kelulusan sekolah, terutama para remaja setingkat sekolah menengah atas dan sederajat. Bagaimana cara kalian menikmati moment kelulusan tersebut? Apakah masih melakukan budaya coret seragam sekolah? Lalu konvoi seperti jagoan bak di film action yang sedang menantang lawannya. Tentu aku yakin kalian pasti masih ada yang melakukan tindakan tersebut. Namun apakah kalian tahu bagaimana asal mula budaya tersebut dan apakah masih relevan bila dilakukan saat ini?

Mengutip dari sebuah artikel pendidikan di salah satu portal berita online. Sejarah atau awal mula budaya coret-coret seragam sekolah sekitar tahun 1990 an. Tepatnya sekitar tahun 1996, mengapa ada budaya coret seragam? Pada tahun tersebut mulai diberlakukan standar ujian nasional atau yang dikenal dengan EBTANAS. Generasi pada masa itu merasa tertekan dengan sistem tersebut dan tertekan karena mempengaruhi syarat kelulusan. Dengan kata lain nilai EBTANAS dijadikan patokan kelulusan sekolah. Maka dari itu ketika mereka dinyatakan telah lulus, mereka luapkan dengan warna-warni yang menyenangkan sebagai ungkapan rasa jenuh menghadapai EBTANAS telah dilalui dan berhasil lulus sekolah.

Seiring berjalannya waktu budaya ini terus berlanjut di tahun 2000an, namun sudah mengalami pergeseran karena budaya ini semakin terkesan anarkis dan tidak berfaedah. Budaya ini, tidak lagi mencerminkan rasa syukur perayaan kelulusan sekolah. Masyarakat yang semula juga menikmati moment kelulusan lambat laun mulai “risih” dengan budaya tersebut, selain coret-coret moment ini juga menganggu kenyamanan umum dengan melakukan konvoi seenaknya sendiri. Apalagi banyak diantara mereka berboncengan dengan pakain mini serta berpesta minum-minuman keras. Apa ini cara merayakan kelulusan sekolah ? apakah sekolah di era sekarang lebih menantang seperti dulu? Masih relevankan bila budaya ini diteruskan?

Sebagai seorang yang saat ini berperan sebagai pendidik. Aku sangat kecewa bahkan tidak respect lagi dengan tindakan perayaan kelulusan dengan cara coret-coret seragam sekolah. Bagiku, perayaan ini sudah tidak perlu berlebihan karena tingkat kelulusan ujian sudah bukan lagi hal yang menyeramkan seperti dulu. Jika dulu Ujian Nasioal begitu menengangkan bahkan bisa dinyatakan tidak lulus. Namun untuk saat ini berbeda, setelah banyak kritik dan masukan tentang standar kelulusan nasional, ujian nasional bukan hal yang menentukan kelulusan semata bahkan sama sekali tidak mendebarkan. Kemungkinan untuk tidak lulus sangat kecil, karena subjektivitas pengajar di sekolah juga sangat menentukan, dan bisa dijamin bahwa tidak ada guru yang mau dianggap gagal karena tidak meluluskan siswanya sendiri.

Jadi budaya coret-coret seragam saat kelulusan sekolah sudah seharusnya tidak perlu lagi. Apa yang mau kalian rayakan? Kebebasan? Apakah belajar kalian hari ini kurang bebas, kalian tentu ada hak untuk menggunakan gadget/handphone untuk melakukan browsing mencari bahan pembelajaran. Kalian bebas mengakses “youtube”untuk mencari konten pembelajaran tidak perlu bersusah payah membeli buku tebal dan mencatat ulang. Kemudahan belajar di era milenial seperti sekarang sudah menjadi hal wajar. Seperti kata mas menteri pendidikan dengan slogan merdeka belajar. Tidak perlu nunggu moment kelulusan, kalian sudah merdeka dalam hal belajar. Rayakan kelululusan dengan kegiatan positif yang lebih berfaedah. Syukuri masa belajar semasa sekolah. Ingtlah setelah lulus sekolah masih banyak tantangan yang kalian hadapi.

Comments

Popular posts from this blog

5 goyang nge-Hitz yang paling banyak ditiru

CAPER (cari perhatian)

BLOGGER INDONESIA: Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya